melawan lupa
Undangan: aksi bisu dan menyanyi santai. mengenang kematian Arnold C. Ap Yang Ke 39.
Dewan Pimpinan Cabang
Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tangah Papua Se-Indonesia. Wilayah Kota Gorontalo, bersama Prodem.
Salam Pembebasan Nasional Papua Barat, salam Revolusi Papua Merdeka.
Pada 26 April 1984, Arnold Clemens Ap seorang musisi pendiri grup musik dan tari Mambesak terbunuh oleh Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandah) atau yang kini lebih dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopasus) di Pantai Base-G Kota Jayapura, Papua.Semasa hidup Arnold dikenal sebagai seorang Seniman dan Budayawan. Mambesak musik dengan irama tradisional keseluruh tanah Papua dalam kurun waktu 1978-1984.
Ada beberapa cara yang digunakan Arnold Ap bersama kawan-kawannya di Mambesak, pertama merakam dan memproduksi album lagu Mambesak Volume I hingga V dalam bentuk kaset pita. Produksi tersebut bahkan dilakukan berulang kali kerana diminati dan tersebar luas di seluruh Tanah Papua. Sejak itu Arnold dan teman-temannya mendirikan sebuah grup musik dan tari sekitar 1972. Awalnya Grup itu mereka beri nama Manyori atau Burung Nuri yang dianggap Burung Suci oleh suku Biak. Namun dengan berbagai masukan serta pertimbangan dari banyak sahabat, mereka lalu memilih sebuah nama yang masih dari bahasa Biak yaitu Mambesak yang artinya Burung Cenderawasih.
Eksistensi Mambesak dalam bidang musik, seni, dan budaya membuat seorang Arnold Ap dikenal luas di Papua. Ratusan hingga ribuan musik karya mereka telah diproduksi menjadi Kaset dalam beberapa volume dan dijual secara luas di seluruh tanh Papua waktu itu. Membesak tidak sulit mendapat tempat di hati para pecinta musik Papua karena menyanyikan lagu dengan hampir semua bahasa suku di Papua, dengan perpaduan antara gitar, ukuele, dan tifa, irama yang digemari rakyat Papua, yang dalam Ilmu Antropologi serta musikologi dikenal dengan Folksong Pengaruhnya yang luas bersama Mambesak, sekaligus menjabat Kurator Museum Uncen bahkan penanggung jawab dua siaran radio di RRI menimbulkan keresahan bagi beberapa kelompok dan membuat dirinya mulai tidak disukai terutama oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Arnold dicurigai menjadikan Mambesak sebagai separatisme “gaya baru”, dan dengan semua aktivitasnya itu dituding sebagai propaganda politik untuk memprovokasi rakyat Papua menentang Indonesia.
Terlebih lagi saat itu di Papua ada seorang eks Tentara Nasional Indonesia (TNI) asal Biak bernama Zet Jafeth Rumkorem, yang baru saja memproklamirkan kemerdekaan Republik Papua Barat di pinggiran Kota Jayapura yang dikenal dengan Markas Viktoria pada 1 Juli 1971. Suatu peristiwa Politik yang semakin menambah tingginya operasi militer ABRI di Papua. Nama-nama operasi militer untuk penumpasan Organisasi Papua Merdeka tersebut, antara lain: Operasi pamungkas (1970-1974), operasi kikis (1977-1978), operasi sapu bersih (1978-1982), Operasi Sate (1984) dan masih banyak lagi Operasi-operasi militer yang sudah semenjak tahun 1963 hingga 1998 gencar di seluruh Tanah Papua.
Arnold Ap lalu dikaitkan memiliki hubungan dengan kelompok Zet Rumkorem tersebut sehingga harus disingkirkan. Walaupun sampai sekarang tuduhan tersebut tidak pernah terbukti dan tidak mampu dibuktikan oleh ABRI. Arnold ditangkap dan di jebloskan ke Rumah Tahanan Polisi Daerah Papua (Polda) bersama sepupunya yang juga anggota Mambesak dan Staf Kampus Fisip-Uncen bernama Edy Mofu 30 November 1983, mereka ditahan berbulan-bulan tanpa pernah diadili di Pengadilan.
Pada malam 21 April 1984 seorang anggota polisi bernama Pius Wanem “membujuk” Arnold Ap untuk melarikan diri dari Rumah Tahanan Polda Papua di APO Kota Jayapura. Malam hari ketika sel rumah tahanan itu dibuka lima orang tahanan diantanya Arnold Ap , Edy Mofu, Agustinus Runtumboi (Sekretaris Desa Nolokla, Setani), Alex Membri, Johanis C. Rumainum (Mahasiswa Fisip-Uncen) melarikan diri.
Perlahan-lahan mereka meninggalkan lingkungan Polda Papua menuju kearah belakang Gedung Olaraga (GOR) Cenderawasih, disana telah menunggu sebuah mobil Toyoya. Alex Mebri memilih tidak ikut bersama mereka dan hilang di kegelapan malam. Mobil itu lalu melarikan mereka ke Base-G sebuah kawasan pantai Wisata dibagian utara Kota Jayapura.
Sesampianya disana para tahanan lalu melepaskan pakaian dan berenang untuk mengapai sebuah perahu kecuali Edy Mofu. Dengan kondisi lautan yang bergelombang di malam itu Edy Mofu tidak dapat mengapai perahu.
Setelah menunggu beberapa lama, mereka memutuskan untuk ke Pasir 6 sebuah lokasi arah barat Kota Jayapura. Keesokan harinya didapati kabar bahwa jasat Edy Mofu ditemukan warga lengkap dengan pakaian yang dikenakan.Arnold Ap bersama kedua rekannya menunggu selama tiga hari di Pasir 6 dengan harapan akan ada jemputan yang melarikan mereka menuju Provinsi Vanimo, Papua New Guinea (PNG), disana anak dan isterinya telah menunggu.
Namun naas, di hari keempat, saat berada di bibir pantai perahu yang sering digunakan warga untuk menghantar makanan pada mereka telah dipenuhi oleh Kopasanda. Arnold tidak kuasa menghindari sergapan, tiga tembakan menyasar di perut dan lengan kanannya. Dengan terluka dia di gelandang keatas perahu dan dilahirkan kembali ke Base G. Dua orang perawat dari Rumah Sakit Aryoko telah menunggu dengan peralatan medis di Base G namun menemukan bahwa dia telah tewas sebab pendarahan. Untuk mengenang semangat perlawanan Arnol C Ap melawan kolonial indonesia, maka kami Dpc AMPTPI Kota Gorontalo, mengundang kawan-kawan Mahasiswa Papua di Gorontalo dan Pro Demokrasi untuk hadir dalam Aksi bisu dan menyanyi santai yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tgl : Rabu, 26 April 2023
Waktu : 17.00 – Merdeka
Tempat : samping Kantor DPRD kota
#TARIKMILITER #CABUTKOTSUSJILID2_DOB #INDONESIAPENJAJAH #FREEWESTPAPUA
#PAPUALIVEMATTER
Komentar
Posting Komentar